BAB 1: PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kelahiran ilmu
filsafat pada masa silam yang telah dipopulerkan oleh beberapa tokoh filsafat
Yunani kuno yakni diantaranya Heraklitos, Plato, Aristoteles dan sebagainya
telah menjadi sebab lahirnya para filsuf Muslim, diantaranya adalah Al-Kindi,
Ibn Sina, Ibn Rusyd, Al-Farabi dan lain-lain. Mereka
adalah orang-orang terbesar dalam dunia kefilsafatan Islam. Meskipun diantara
mereka banyak terjadi perbedaan-perbedaan dalam berargumen, namun pada
hakikatnya tujuan mereka tetap sama yakni mencari dan menemukan kebenaran
dengan akal yang berpedomankan pada Al-Quran dan As-Sunnah. Filosof
Muslim yang dibicarakan disini adalah, Al-Farabi.
Beliau adalah
penerus tradisi intelektual Al-Kindi, tapi dengan kompetensi, kreatifitas,
kebebasan berpikir, dan tingkat sostifikasi yang lebih tinggi lagi. Jika Al-Kindi
dipandang sebagai seorang filosof Muslim dalam arti kata yang sebenarnya, Al-Farabi
disepakati sebagai peletak sesungguhnya dasar piramida studi falsafah dalam
Islam yang sejak itu terus dibangun dengan tekun. Ia terkenal dengan sebutan
Guru Kedua dan otoritas terbesar setelah panutannya Aristoteles. Ia termasyhur
karena telah memperkenalkan doktrin “Harmonisasi pendapat Plato dan
Aristoteles”. Ia mempunyai kapasitas ilmu logika yang memadai. Di kalangan
pemikir Latin ia dikenal sebagai Abu Nashr atau Abu Naser.[1]
BAB 2: PEMBAHASAN
2.1 Riwayat Hidup Al- Farabi
Al-farabi atau atau nama sebenar beliau, Abu Nashr
Muhammad ibn Muhammad ubn Tarkhan ibn Auzalagh. Di kalangan
orang-orang latin abad pertengahan Al-Farabi lebih dikenal dengan Abu Nashr
(Abunasaer). Sebenarnya nama julukan Al-Farabi diambil dari nama kota Farab,
Beliau dilahirkan di desa Wasij di Distrik Farab[2] (Utrar, provinsi Transoxiana, Turkestan) pada tahun
257 H (870M). Ayahnya seorang jenderal berkebangsaan Persia dan ibunya
berkebangsaan Turki.[3]
Sejak kecil Al-Farabi tekun dan rajin belajar, dalam olah
kata, tutur bahasa ia mempunyai kecakapan yang luar biasa. Al-farabi pernah
belajar bahasa dan sastra Arab di Baghdad kepada Abu Bakar al-Siraj, dan logika
serta filsafat kepada Abu Bakar al- Siraj, dan logika serta filsafat Abu Bisyr
Mattius Ibn Yunus, seorang kristen Nestorian yang banyak menerjemahkan filsafat
Yunani.
2.1.1 Kehidupan dan Pembelajaran
Sejak kecil, Al-Farbi digambarkan memiliki kecerdasan
istimewa dan bakat besar untuk menguasai hampir setiap subyek yang dipelajari.
Pada masa awal pendidikannya, Al-Farabi
belajar al-Qur’an, tata bahasa, kesusasteraan,
ilmu-ilmu agama (fiqh, tafsir dan ilmu
hadits)
dan aritmatika dasar.
Al-Farabi semasa mudanya belajar ilmu-ilmu Islam dan
musik di Bukhara, dan tinggal di Kazakhstan sampai umur 50. Ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu di sana selama 20 tahun.[4] Setelah kurang lebih 10 tahun
tinggal di Baghdad, yaitu kira-kira pada tahun 920
M, al Farabi kemudian mengembara di
kota Harran yang terletak di utara Syria, dimana saat itu Harran merupakan
pusat kebudayaan Yunani di Asia kecil. Ia kemudian belajar filsafat dari Filsuf
Kristen terkenal yang bernama Yuhana
Ibn Jilad.
Tahun 940M, Al Farabi melajutkan pengembaraannya ke Damaskus dan bertemu dengan Sayf al Dawla al Hamdanid, Kepala
daerah (distrik) Aleppo, yang dikenal sebagai simpatisan para Imam Syi’ah.
Kemudian Al-Farabi wafat di kota Damaskus pada usia 80 tahun (Rajab 339 H/
Desember 950 M) di masa pemerintahan Khalifah Al Muthi’ (masih dinasti
Abbasiyyah).
Al-Farabi adalah seorang komentator filsafat Yunani yang ulung di dunia Islam. Kontribusinya
terletak di berbagai bidang seperti matematika, filosofi, pengobatan, bahkan musik. Al-Farabi telah menulis berbagai
buku tentang sosiologi dan sebuah buku penting dalam
bidang musik, Kitab
Al-Musiqa.
Selain itu, ia juga dapat memainkan dan telah menciptakan bebagai alat musik.
Al-Farabi dikenal dengan sebutan "guru kedua"
setelah Aristoteles, karena kemampuannya dalam
memahami Aristoteles yang dikenal sebagai guru pertama dalam ilmu filsafat. Dia
adalah filsuf Islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan
sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam serta
berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu.
Al-Farabi hidup pada daerah otonomi di bawah pemerintahan
Sayf al Dawla dan di zaman pemerintahan dinasti Abbasiyyah, yang berbentuk Monarki yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Beliau lahir dimasa kepemimpinan Khalifah Mu’tamid
(869-892 M) dan meninggal pada masa pemerintahan Khalifah Al-Muthi’ (946-974 M)
dimana periode tersebut dianggap sebagai periode yang paling kacau karena
ketiadaan kestabilan politik.
Dalam kondisi demikian, Al-Farabi berkenalan dengan
pemikiran-pemikiran dari para ahli Filsafat Yunani seperti Plato dan Aristoteles dan mencoba mengkombinasikan ide atau
pemikiran-pemikiran Yunani Kuno dengan pemikiran Islam untuk menciptakan sebuah
negara pemerintahan yang ideal (Negara Utama).
2.2 Karya Al- Farabi
Al- farabi yang
dikenal sebagai filsuf Islam terbesar memiliki keahlian dalam banyak bidang
keilmuan, seperti ilmu bahasa, matematika, kimia, astronomi, kemiliteran, musik,
ilmu alam, ketuhanan, fiqh, dan manthiq. Oleh karena itu, banyak karya yang
ditinggalkan Al-Farabi, namun karya tersebut tidak banyak diketahui seperti
karya Ibnu Sina. Hal ini karena karya-karya Al-Farabi hanya berupa
risalah-risalah (karangan pendek) dan sedikit sekali yang berupa buku besar
yang mendalam pembicaraannya. Kebanyakan karyanya telah hilang, dan yang masih
dapat dibaca dan dipublikkasikan, baik yang sampai kepada kita maupun yang
tidak, kurang lebih 30 judul saja.
Pada abad
pertengahan, Al-Farabi menjadi sangat terkenal, sehingga orang-orang Yahudi
banyak yang mempelajari karangan-karangannya dan beliau menukarkannya kedalam
bahasa Ibrani. Sampai sekarang. Sebagian besar karya Al-Farabi terdiri dari
ulasan dan penjelasan terhadap filsafat Aristoteles, Plato, dan Galenus, dalam
bidang logika, fisika, etika, dan metafisika. Meskipun banyak tokoh filsafat
yang dipikirkannya, beliau lebih terkenal sebagai pengulas Aristoteles. Ibnu
Sina pernah mempelajari buku Metafisika karangan Aristoteles lebih dari empat
puluh kali, tetapi belum juga mengerti maksudnya. Setelah membaca karangan
Al-Farabi yang berjudul Aghradh Kitabi ma Ba’da Ath-Thabi’ah, barulah beliau
mengerti apa yang selama ini diasakan sukar.
Di antara judul karyanya adalah seperti berikut:[5]
a.
Syuruh
Risalah Zainun Al-Kabir Al-Yunani
b. Al-Ta’liqat
c. Risalah Fima Yajibu Ma’rifat Qabla Ta’allumi Al-Falsafah
d. Kitab Tehsil Al-Sa’adah
e. Risalah Fi Itsbat Al-Mufaraqah
f. ‘Uyun Al-Masa’il
g. Ara; Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah
h. Ihsha’al- ‘Ulum Wa Al-Ta’rif Bi Aghradiha
i.
Maqalat Fi Ma;Ani Al-Aql
j.
Fushul Al-Hukm
k. Risalah Al-Aql
l.
Al-Siyasah Al-Madaniyah
m. Al-Masa’il Al-Falsafiyah Wa Al-Ajwibah ‘Anha
n. Al-Ibanah ‘An Ghardi Aristo Fi Kitabi Ma Ba’da Al-Thabia’ah
2.3 Pemikiran Al- Farabi Dalam Filsafat
2.3.1 Pemaduan filsafat
Al-Farabi berusaha memadukan bebarapa aliran filsafat yang berkembang
sebelumnya, terutama pemikiran Plato, Aristoteles, dan Platinus, juga antara agama
dan filsafat. Karena itu, beliau dikenal sebagai filusuf sinkretisme yang
mempercayai kesatuan filsafat. Dalam ilmu logika dan fisika, beliau dipengaruhi
oleh Aristoteles. Dalam masalah akhlak dan politik, beliau dipengaruhi oleh Plato.
Sedangkan dalam persoalan metafisika, Al-Farabi dipengaruhi oleh Plotinus.
Sebenarnya,
usaha kearah sinkretis pemikiran telah dimulai muncul pada aliran
neo-Platonisme. Namun, usaha Al-Farabi lebih luas karena beliau bukan saja
mempertemukan aneka aliran filsafat, juga penekananya bahwa aliran-aliran filsafat
itu pada hakikatnya satu, meskipun pemunculannya berbeda corak ragamnya.
Untuk
mempertemukan dua filsafat yang berbeda seperti halnya antara Plato dan
Aristoteles mengenai idea, Aristoteles tidak mengakui bahwa hakikat itu adalah
idea, karena apabila hal tersebut diterima berarti alam realitas ini tidak
lebih dari alam khayal atau sebatas pemikiran saja. Berbeda pula halnya dengan
Plato yang mengakui idea sebagai satu hal yang berdiri sendiri dan menjadi
hakikat segala-galanya. Al-Farabi menggunakan interpretasi batini, yakni dengan
menggunakan ta’wil bila menjumpai pertentangan pikiran antara keduanya.
Menurut Al-Farabi, sebenarnya Aristoteles mengakui alam rohani yang terdapat di
luar alam ini. Jadi kedua filsuf tersebut mengakui adanya idea-idea pada zat
Tuhan.
Adapun
perbedaan, maka hal tersebut tidak lebih dari tiga kemungkinan:[6]
1. Definisi yang dibuat tentang filsafat tidak benar.
2. Pendapat orang banyak tentang pikiran-pikiran falsafi dari kedua filsuf
tersebut terlalu dangkal. Adanya kekeliruan dalam pengetahuan orang-orang yang
menduga bahwa antara keduanya terdapat perbedaan dalam dasar-dasar falsafi.
3. Pengetahuan tentang adanya perbedaan antara keduanya tidak benar.
Padahal definisi filsafat menurut keduanya tidaklah berbeda, yaitu suatu ilmu
yang membahas tentang yang ada secara mutlak.
Adapun
perbedaan antara agama dan filsafat, tidak mesti ada karena keduanya mengacu
kepada kebenaran, dan kebenaran itu hanyalah satu, kendatipun posisi dan cara
memperoleh kebenaran itu berbeda, satu menawarkan kebenaran dan lainnya mencari
kebenaran. Tetapi kebenaran yang terdapat pada keduanya adalah serasi karena
bersumber dari Akal Aktif. Kebenaran yang diperoleh oleh filsuf dengan
perantaraan Akal Mustafad, sedangkan Nabi melalui perantaraan wahyu. Kalaupun
terdapat perbedaan antara keduanya, tidaklah pada hakikatnya, dan untuk
menghindari itu dipergunakan ta’wil filosofis. Dengan demikian, filsafat Yunani
tidak bertentangan secara hakikat dengan ajaran Islam. Hal ini tidak berarti
Al-Farabi mengagungkan filsafat dari agama. Ia tetap mengakui bahwa ajaran
Islam mutlak kebenarannya.
2.3.2. Filsafat Metafisika
Dalam
masalah ketuhanan, Al-Farabi menggunakan pemikiran Aristoteles dan
neo-platonisme, yakni Al-Maujud Al-Awwal sebagai sebab pertama segala
yang ada. Konsep ini tidak bertentangan dengan keesaan dalam ajaran islam.
Dalam pembuktian adanya tuhan, al-farabi mengemukakan dalil wajib al-wujud
dan mumkin al-wujud. Menurutnya, segala yang ada ini hanya ada dua kemungkinan
dan tidak ada alternatif yang ketiga.
Wajib
al-Wujud adalah wujudnya tidak boleh tidak ada, ada dengan sendirinya, esensi
dan wujudnya adalah sama dan satu. Ia adalah wujud yang sempurna selamanya dan
tidak didahului oleh tiada. Jika wujud ini tidak ada, maka akan timbul
kemustahilan, karena wujud lain untuk adanya tergantung kepadanya. Inilah yang
disebut dengan Tuhan.
Mumkin
al-wujud ialah sesuatu yang sama antara berwujud tidaknya. Mumkin al-wujud
tidak akan berubah menjadi wujud actual tanpa adanya wujud yang mwnguatkan, dan
yang menguatkannya itu bukan dirinya tetapi wajib al-Wujud.
Sifat
tuhan bagi Al-Farabi sejalan dengan paham Muktazilah. Yakni sifat tuhan tidak
berbeda dengan substansi-Nya. Orang boleh saja menyebut asma’ al-husna sebanyak
yang diketahuinya, tetapi nama tersebut tidak menunjukkan adanya bagian-bagaian
pada zat Tuhan atau sifat-sifat yang berbeda dari zat-Nya. Bagi al-farabi,
tuhan adalah ‘Aql murni. Ia Esa adanya dan yang menjadi obyek
pemikiran-Nya hanya substansi-Nya saja. Ia tidak memerlukan sesuatu yang lain
untuk memikikan substansi-Nya. Jadi tuhan adalah ‘Aql, ‘Aqil, dan Ma’qul (
akal, substansi yang berfikir, dan substansi yang dipikirkan).
2.3.3. Filsafat Emanasi (Penciptaan Alam)
Mengenai penciptaan
alam, Al-Farabi mencoba menjelaskan bagaimana yang banyak timbul dari Yang
Satu. Tuhan Maha Satu, tidak berubah, jauh dari materi, jauh dari arti banyak,
Maha Sempurna dan tidak berhajat pada apapun. Kemudian bagaimana terjadinya
alam materi yang banyak ini dari Yang Maha Satu, Al-Farabi menjelaskannya
melalui filsafat emanasi/pancaran.
Adanya proses
terjadinya yang banyak dari Yang satu, Al-Farabi berpegang pada asas: yang
berasal dari yang satu pasti satu juga. Menurut asas itu, Allah yang maha esa
mustahil dapat melimpahkan secara langsung beraneka macam hasil emanasi,
apalagi menciptakan aneka macam ciptaan. Jadi, dunia itu azali, tanpa
permulaan, bukan ciptaan. Jelasnya, proses emanasi itu sebagai berikut: Tuhan
sebagai akal, berfikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran ini timbul
suatu maujud lain. Tuhan merupakan wujud pertama dan dengan
pemikiran itu timbul wujud kedua yang juga mempunyai subtansi. Ia disebut Akal
Pertama yang tak bersifat materi. Wujud kedua ini berfikir tentang wujud pertama
dan dari pemikiran ini timbullah wujud ketiga, disebut Akal Kedua. Wujud II
atau Akal Pertama itu juga berfikir tentang dirinya dan dari situ timbullah
Langit Pertama.
|
Wujud/Akal
|
Tuhan
|
Dirinya
|
|
Wujud III/Akal Kedua
|
Wujud ke IV/Akal Ketiga
|
Bintang-bintang
|
|
Wujud IV/Akal Ketiga
|
Wujud V/Akal Keempat
|
Saturnus
|
|
Wujud V/Akal Keempat
|
Wujud VI/Akal Kelima
|
Jupiter
|
|
Wujud VI/Akal Kelima
|
Wujud VII/Akal Keenam
|
Mars
|
|
Wujud VII/Akal Keenam
|
Wujud VIII/Akal Ketujuh
|
Matahari
|
|
Wujud VIII/Akal Ketujuh
|
Wujud IX/Akal Kedelapan
|
Venus
|
|
Wujud IX/Akal Kedelapan
|
Wujud X/Akal Kesembilan
|
Mercury
|
|
Wujud X/Akal Kesembilan
|
Wujud XI/Akal Kesepuluh
|
Bulan
|
Pada
pemikiran wujud 11/akal 10 berhentilah terjadinya akal-akal. Tetapi dari akal
10 muncullah bumi serta roh-roh dan materi pertama yang menjadi dasar dari
keempat unsur yakni api, udara, air, dan tanah. Dengan demikian, ada 10 akal
dan 9 langit(dari teori Yunani tentang 9 langit yang kekal berputar sekitar
bumi). Akal 10 mengatur dunia yang ditempati manusia.[7] Akal ini disebut juga ‘Aql Fa’al(akal aktif) atau wahib al-shuwar
(pemberi bentuk) dan terkadang disebut Jibril yang mengurusi kehidupan
bumi.
Akal-akal
dan planet-planet terpancar dengan cara berturutan dalam tingkatannya, tetapi
terjadi dalam waktu bersamaan. Hal ini disebabkan Tuhan berpikir tentang
diri-Nya menghasilkan daya energi yang karenanya menghasilkan sesuatu, maka
terciptalah Akal1 sampai Akal 10.
Al- Farabi mengklasifikasikan yang wujud kepada dua rentetan yaitu:[8]
1.
Rentetan
wujud yang esensinya tidak berfisik. Termasuk dalam hal ini varitas yang tidak
berfisik dan tidak menempati fisik (Allah, Akal Pertama, dan yang tidak
berfisik tetapi bertempat pada fisik(jiwa,bentuk dan materi).
2.
Rentetan
wujud yang berfisik, yaitu benda-benda langit, manusia hewan, tumbuh-tumbuhan,
dan unsur yang empat (air, udara, tanah, dan api).
Tujuan
Al-Farabi mengemukakan teori emanasi tersebut untuk menegaskan kemahaesaan
Tuhan. Karena tidak mungkin yang Esa berhubungan dengan yang tidak esa atau
banyak. Andaikan alam diciptakan secara langsung mengakibatkan Tuhan
berhubungan dengan yang tidak sempurna, dan ini menodai keesaan-Nya. Jadi, dari
Tuhan yang maha esa hanya muncul satu, yakni Akal Pertama yang berfungsi
sebagai perantara dengan yang banyak.
Menurut
Al-Farabi, Tuhan tidak berkehendak, karena hal itu membawa kepada
ketidaksempurnaan, termasuk melimpahnya yang banyak dari diri-Nya secara
sekaligus, dan itu tidak terjadi dalam waktu. Dari pendapat ini Al-Farabi hanya
menyatakan alam adalah taqaddum zamani, bukan taqaddum zati.[9]
2.3.4. Filsafat jiwa
Adapun tentang
jiwa, Al-Farabi juga dipengaruhi oleh filsafat Plato, Aristoteles, dan juga Plotinus.
Jiwa bersifat rohani, bukan materi, terwujud setelah adanya badan dan jiwa
tidak berpindah-pindah dari suatu badan ke badan yang lain.
Jiwa manusia
sebagaimana halnya materi asal memancar dari Akal 10. Kesatuan antara jiwa dan
jasad merupakan kesatuan secara accident, artinya antara keduanya
mempunyai substansi yang berbeda, dan binasanya jasad tidak membawa binasanya
jiwa. Jiwa manusia disebut al-nafs al-nathiqah, yang berasal dari alah
Ilahi, sedangkan jasad berasal dari alam khalq, berbentuk, berupa, berkadar,
dan bergerak. Jiwa diciptakan tatkala jasad siap menerimanya.
Jiwa manusia mempunyai daya-daya, sebagai berikut:[10]
1.
Daya
gerak yakni:
a.
Makan
b.
Memelihara
c.
Berkembang
2.
Daya
mengetahui
a.
Merasa
b.
Imaginasi
3.
Daya
berpikir
a.
Akla
praktis
b.
Akal
teoretis
Daya teoritis terbagi kepada tiga tingkatan yaitu:[11]
1.
Akal
potensial baru mempunyai potensi berpikir dalam arti: melepaskan arti-arti atau
bentuk-bentuk dari materinya.
2.
Akal
aktual telah dapat melepaskan arti-arti dari materinya, dan arti-arti itu telah
mempunyai wujud dalam akal sebenarnya, bukan lagi dalam bentuk potensi, tetapi
dalam bentuk aktual,
3.
Akal
Mustafad, telah dapat menangkap bentuk semata-mata yang tidak dikaitkan dengan
materi dan mempunyai kesanggupan mengadakan komunikasi dengan akal 10.
Mengenai keabadian
jiwa, Al-Farabi membedakan antara jiwa khalidah dan jiwa fana. Jiwa khalidah
adalah jiwa fadilah, yaitu jiwa yang
mengetahui kebaikan dan berbuat baik, serta dapat melepaskan diri dari ikatan
jasmani. Jiwa ini tidak hancur dengan hancurnya badan. Tetapi, jiwa yang tahu
kesenangan namun menolaknya, tidak akan hancur dan akan kekal, namun kekal
dalam kesengsaraan. Jiwa fana adalah jiwa yang tidak sempurna, akan hancur
seiring dengan hancurnya jasad, akan kekal tapi dalam kesengsaraan.
2.3.5. Teori Politik/Filsafat Politik
Teori politik Al-Farabi dalam bukunya Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadilah (Kota
Modern). Dimana kota, sebagai badan manusia mempunyai bagian-bagian yang satu
dengan yang lain dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu yang harus dijalankan
untuk kepentingan keseluruhan badan. Dalam kota (masyarakat), masing-masing
anggota harus diberikan pekerjaan sesuai dengan kesanggupannya. Pekerjaan yang
terpenting dalam masyarakat ialah pekerjaan kepala masyarakat, yang dalam tubuh
manusia serupa dengan pekerjaan akal. Kepala-lah sumber dari segala peraturan
dan keharmonisan dalam masyarakat. Ia mesti bertubuh sehat dan kuat, pintar,
cinta pada ilmu pengetahuan dan pada keadilan. Disamping daya profertik yang dikurniakan
Tuhan kepadanya, ia harus memiliki kualitas-kualitas berupa:[12]
1. Kecerdasan
2. Ingatan yang baik
3. Pikiran yang tajam
4. Cinta pada pengetahuan
5. Sikap moderat dalam hal makanan, minuman, dan seks
6. Cinta pada kejujuran
7. Kemurahan hati
8. Kesederhanaan
9. Cinta pada keadilan
10. Ketegaran dan keberanian
11. Kesehatan jasmani,
12. Kefasihan berbicara
Tujuan negara utama, kebahagiaan, dan bentuknya, keserasian, terganggu
dan dijadikan bahan tertawaan, akan melahirkan empat macam kemungkinan kota/
negara, yaitu kota kebodohan, kota pembangkang, kota pembelot, dan kota yang
salah. Kota kebodohan digambarkan sebagai kota yang penduduknya tidak
mengetahui kebahagiaan sejati dan tidak pula mengejarnya, bahkan mereka
terpikat dengan kesenangan-kesenangan hidup yang palsu, seperti mementingkan
kesentosaan pribadi atau pemeliharaan diri.
Kota
pembangkang berbeda dengan kota utama dalam satu hal yang penting: meskipun
penduduknya telah memahami kebenaran tentang Tuhan, kehidupan akhirat, dan
sifat kebahagiaan sejati, tetapi mereka gagal untuk hidup sesuai dengan
kebenaran itu. Kota pembelot, dipihak lain, merupakan kota yang pada mulanya
memenuhi kritiria ini, tetapi kemudian membelot daripadanya. Kota yang salah
adalah kota yang tidak pernah mencapai lebih dari suatu pengetahuan yang keliru
tentang Tuhan atau kebahagiaan sejati dan diperintah oleh nabi-nabi palsu, yang
menggunakan jalan licin dan tipu daya dalam mencapai tujuan-tujuannya.
Pemikiran
Al-Farabi tentang kenegaraan tersebut terkesan ideal sebagaimana halnya
konsepsi kenegaraan yang ditawarkan oleh Plato. Hal ini dimungkinkan, Al-Farabi
tidak pernah memangku suatu jabatan pemerintahan, ia lebih menyenangi
berkhalwat, menyendiri, sehingga ia tidak mempunyai peluang untuk belajar
pengalaman dalam pengelolaan urusan kenegaraan.
2.3.6. Filsafat
Kenabian
Filosof-filosof
dapat mencapai hakekat-hakekat karena melalui komunikasi dengan Akal Kesepuluh.
Begitupun Nabi dan Rasul, dapat menerima wahyu karena memiliki kemampuan untuk
berkomunikasi dengan Akal Kesepuluh. Namun Rasul dan Nabi memiliki kedudukan
yang lebih tinggi dari filosof, karena Rasul dan Nabi telah dipilih dan bukan
atas usaha sendiri dalam berkomunikasi dengan Akal Kesepuluh, namun atas
pemberian dari Tuhan.
Sedangkan
filosof mengadakan komunikasi atas usahanya sendiri, melalui latihan dan kontemplasi,
kemudian komunikasi dapat dilakukan melalui akal, yaitu akal mustafad. Rasul
dan Nabi tidak perlu mencapai hingga Akal Mustafad untuk berkomunikasi dengan
Akal Kesepuluh, mereka dapat melakukannya dengan imaginasi yang dapat
melepaskan mereka dari pengaruh-pengaruh pancaindera dan dari tuntutan-tuntutan
badan, sehingga ia dapat memusatkan perhatian dan mengadakan hubungan dengan
Akal Kesepuluh.
BAB 3: KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan, atau yang lebih dikenal dengan Al-Farabi, merupakan filosof yang memulai pendidikan dasarnya
melalui belajar ilmu agama. Beliau menguasai beberapa bahasa, disamping itu ia juga
mempelajari matematika dan filsafat. Pemikiran Al-Farabi dikenal dengan filsafat
emanasi atau pancaran dimana Tuhan merupakan Akal Pertama, selain itu ia juga
mempunyai pemikiran terhadap kenabian yang ia tunjukkan bagi penganut aliran
yang tidak mempercayai Nabi atau Rosul (wahyu) pada zaman itu, dan filsafat
kenabian tersebut erat hubungannya dengan teori politiknya yang diuraikannya
dalam buku Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadilah.
[1] Osman Bakar, Hierarki Ilmu Membangun
Rangka Pikir Islamisasi Ilmu (Bandung : Mizan,1997), h. 26
[2] Dr. Hasyimah Nasution,M.A., FilsafatIslam (Jakarta: Gaya Media
Pratama, 1999), h.25
[3] Dr.Hasyimah, ibid, h.25
[4] Dr.Hasyimah, ibid, h.25
[5] Dr.Hasyimah, ibid, h.34
[6] Dr.Hasyimah, ibid, h.35
[7] Nasution, Falsafat dan Misticisme,hlm.23.
[8] Dr.Hasyimah, ibid, h.33
[9] Dr.Hasyimah, ibid, h.34
[10] Dr.Hasyimah, ibid, h.39
[11] Dr.Hasyimah, ibid
[12] Dr.Hasyimah, ibid, h.41
No comments:
Post a Comment